Entri Populer

Minggu, 24 April 2011

Mensyukuri Nikmat Allah Swt.

MENSYUKURI NIKMAT ALLAH SWT.
Oleh: Masyruddin Nusi

السلم عليكم ورحمة الله وبر كاته
 الحَمْدُ اِللهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى اَشْرَفِ الْاَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَا بِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ: 

Dalam Alqur’an Allah Swt, berfirman:
فَاذْكُرُنِيْ أ ذْكُرْكُمْ وَاثْكُرُوْلِىْ وَلَاتَكْفُرُوْنِ

" Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu,dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku". (Al-Baqarah:152).
Kata “Syukur” secara harfiah berarti “terimah kasih”. Secara umum berarti, mengelolah, memanfaatkan karunia Allah Swt kepada jalan yang dicintai Allah Swt. Bersyukur kepada Allah tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan Al-Hamdulillah, tetapi syukur mengandung suatu makna yang sangat mendalam yang diakui dalam hati dan teraplikasi dalam amal perbuatan sehari-hari.
Perwujudan rasa syukur ini bisa bermacam-macam, ada yang bersyukur diwujudkan dalam bentuk menafkahkan, menginfaqkan sebagian hartanya untuk kepentingan umat. Ada yang bersyukur dengan melakukan sujud syukur, ada yang berpuasa dll.
Dalam konsep agama, dikatakan orang miskin yang ditimpah musibah lalu dia bersabar maka ia mendapat pahala, dan orang kaya yang mendapat nikmat lalu dia bersyukur maka iapun mendapat pahala. Dalam pendekatan sufistik “apapun yang menimpah kita musibah atau nikmat maka kita harus bersyukur”. Misal: saya memiliki sepeda motor, saya bersyukur. Karena kawan saya hanya memiliki sepeda, yang punya sepeda bersyukur karena kawannya yang lain hanya dapat berjalan kaki. Yang berjalan kaki bersyukur karena kawannya yang lain berjalan dengan menggunakan tongkat. Yang menggunakan tongkat bersyukur karena kawan yang lain tidak dapat berjalan....demikian seterusnya.
Untuk melatih diri agar selalu bersyukur kepada Allah Swt, Rasulullah Saw memperingatkan agar dalam urusan dunia kita selalu mengarahkan pandangan kepada yang lebih rendah atau miskin dari kita. Rasul bersabda:
اُ نْظُرُوْ ٳِ لَىْ مَنْ اَ سْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوْا ٳِ لَى مَنْ هُوَ فَوْ قَكُمْ فَهُوَ اَ جْدَرُ اَ نْ لَاتَذْ دَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ
Lihatlah engkau kepada orang yang lebih rendah/miskin dari padamu dan jangan kamu melihat orang yang lebih tinggi/kaya dari padamu karena yang demikian akan lebih tepat bagimu agar engkau tidak meremehkan/ memandang enteng terhadap nikmat Allah Swt yang diberikan kepadamu  (HR. Bukhari-Muslim).

Dalam Qs. An- Nahal 18:
وَ إِ نْ تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah Swt, niscaya kamu tidak dapat menghitung jumlahnya”. Dalam hadis yang lain dinyatakan:
ٳِ ذَانَظَرَ اَحَدُكُمْ ٳِ لَىْ مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِى الْمَالِ وَالْخَلْوَ فَلْيَنْظُرُ ٳِ لَى هُوَ اَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ عِلَيْهِ
Apabila kamu dikaruniai kelebihan dengan harta dan kecantikan maka menengok pulalah kepada orang yang serba kekurangan (HR. Muslim).
Oleh karena itu, kita senantiasa berharaf melalui doa agar apa yang kita miliki dapat menghantarkan kita lebih dekat kepada Allah Swt. Karena Allah Swt mengingatkan dalam Qs. Al-Munafiqun;9:
ﻴﺄ يها الذين امنوا لاتلهكم امولكم ولااولدكم ان سكر الله
Dan janganlah karena harta bendamu dan anak-anakmu memalingkan kamu untuk ingat dan mengabdi kepada Allah Swt’
 Kita meyakini bahwa segala sesuatu yang kita lakukan hakikatnya  kembali kepada diri kita sendiri:
ومن يثكر ﻓﺈنما يثكر لنفسه
“Dan barang siapa yang bersyukur kepada Allah Swt, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri” Qs. Lukman:12


والسلم عليكم ورحمة الله وبر كاته

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar